MELUDAHI KEBAHAGIAAN

Kepada
beberapa kenalannya, sang pedagang minta diantarkan kepada para ulama
untuk meminta nasehat. Para sahabatnya lantas mengajak sang pedagang
untuk mengunjungi ulama setempat untuk mengadukan permasalahannya. Para
ulama kota itu memberinya sejumlah nasehat, namun pedagang itu merasa
kurang puas. Ia masih merasa ada yang mengganggu batinnya, sesuatu yang
tak ia ketahui namun membuat gelisah jiwanya.
Akhirnya
sang pedagang berkata pada para sahabatnya: “ antarkan aku lagi ke
ulama di kota ini yang benar-benar alim, ulama yang tidak cinta dunia.
Agar aku dapat mengambil manfaat dari ucapannya”.
Sahabatnya
berkata: “ seingatku, semua ulama di kota ini telah kita kunjungi.
Tapi, sebentar…memang ada seorang alim yang kita telah lupa
mengunjunginya. Dia adalah Syaikh Jalaluddin Rumi. Beliau adalah orang
yang benar-benar alim. Beliau telah membuang kecintaan pada dunia dan
menukarnya dengan cinta ilahi. Beliau benar-benar sudah tenggelam dalam
rasa cinta yang memabukkan kepada Tuhannya. Beliau kini tinggal di
pinggir kota. Kita telah melupakannya.”
Baru
mendengar nama ulama itu saja sudah membuat hati sang pedagang gembira.
Ia merasa ulama yang disebutkan sahabatnya itu mampu memberi jawaban
atas kegundahannya selama ini. Ia pun berjanji dalam hati, akan memberi
sedikit dari sisa uangnya kepada ulama itu.
Mereka pun berangkat ke tempat sang ulama.
Waktu
mereka tiba, mereka melihat sang ulama sedang asyik membaca kitab di
dalam rumahnya yang sederhana. Baru melihat keteduhan dan pancaran
kelembutan di wajah sang ulama, sudah membuat airmata sang pedagang
berlinang. Cahaya yang memancar dari wajah ulama itu menerbitkan
ketentraman di hatinya. Sang pedagang pun mengucap salam.
Sambil
tersenyum Syaikh Jalaluddin Rumi menjawab salamnya dan berkata: “uang
yang kau niatkan untuk kau berikan padaku aku terima. Semoga Allah
membalasmu dengan kebaikan. Wahai pedagang, sekarang apakah kau ingin
tahu apa yang membuat hatimu gundah dan usahamu terus-menerus rugi?”
Sambil bercucuran airmata pedagang itu mengangguk.
Dengan
tenang, Syaikh Jalaluddin mengarahkan jari telunjuknya ke dinding.
Tiba-tiba saja dinding itu terbelah. Kemudian tampak pemandangan seorang
yang berpakaian compang-camping sedang tidur di sudut pasar.
“wahai
pedagang, kau pernah melewati pasar ini dan memandang jijik pada
pengemis itu, lalu meludahinya. Dia adalah salah satu kekasih Allah.
Hatinya terluka oleh sikapmu padanya. Ia lalu memohon kepada Allah.
Karena doanyalah usahamu jadi terus-menerus rugi dan hatimu selalu
gelisah.”
Pedagang itu menjerit menangisi perbuatannya. Syaikh lalu berkata:
“sekarang
pengemis itu ada di kota Firengistan, di sebuah sudut pasar. Datanglah
kesana, mintalah maaf padanya, cium tangannya dan biarkan airmata
penyesalanmu membasahi telapak kakinya. Sampaikan salam takzimku
padanya.”
Pedagang itu lalu pamit dan
bergegas menuju kota yang dimaksud. Sampai disana ia mendapati
kebenaran kata-kata Rumi. Pengemis itu ada disana. Dengan penuh
penyesalan pedagang itu meminta maaf dan mencium telapak kaki pengemis
itu sambil berlinangan airmatanya.
Dalam
hidup ini mungkin kita mengalami seperti yang dialami pedagang itu.
Kesumpekan, kegelisahan, kegagalan usaha, dan kesialan yang terus
membuntuti. Itu mungkin karena kita telah sengaja atau tanpa sengaja
menyakiti hati orang-orang yang dicintai Allah. Kita sudah meludahi dan
memandang jijik tempat atau orang-orang yang menjadi penyebab turunnya
kemuliaan dan kebahagiaan buat kita, sehingga kemuliaan dan kebahagiaan
untuk kita dibatalkan. Kita telah menghina kehormatan orang-orang yang
dihormati Allah, sehingga kita pun kehilangan kehormatan kita dihadapan
Allah.
Marilah kita meminta maaf kepada mereka, dan mencucurkan airmata penyesalan kita. nek gak iso nangis yo gpopo hahaha... yowes lah,,, mugo mugo manfaat...
Wallahu a'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar