Sabtu, 07 Desember 2013

Madu, Manis Khasiatnya Semanis Rasanya

KH. Abdurrahman Nafis, Syaikh Salim Alwan Al Husaini
Mubarak Assalafi

Dzikir adalah cahaya bila masuk ke hati yang gelap akan menjadi penerang, bila memasuki hati yang penuh kotoran ia akan membakarnya, bila memasuki hati yang telah memiliki cahaya ia akan menjadi cahaya di atas cahaya.
Dalam QS An-Nahl ; 69 “keluar dari perut lebah minuman yang bermacam-macam yang mengandung obat yang menyembuhkan bagi manusia, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kebesaran Allah bagi orang-orang yang berfikir”. Ayat ini banyak membuka hati dan menjadi pintu hidayah para ilmuwan dan peneliti hingga masuk islam disebabkan ayat ini, Dalam ayat ini Allah telah mengaskan bahwa madu mengandung obat yang menyembuhkan bagi manusia. Para dokter sepakat bahwa madu memiliki banyak manfaat. Berbagai riset, kajian dan eksperimen telah dilakukan di berbagai negara maju tentang madu.

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy berkata ; seorang laki-laki datang kepada Rosulullah SAW dan berkata “sesungguhnya saudaraku terkena diare” Rosul SAW bersabda “minumkanlah madu kepadanya” lelaki itu lalu meminumkan madu kepada saudaranya, kemudian ia kembali menemui Rosulullah SAW “sungguh saya telah meminumkan madu kepadanya namun diarenya semakin parah” rosulpun menyuruhnya untuk meminumkan madu kepada saudaranya hal ini berlangsung sebanyak tiga kali, ia kemudian kembali kepada Rosul untuk kali keempat dan Rosulpun tetap menyuruhnya untuk meminumkan madu kepadanya, lalu ia mengatakan “sungguh saya telah meminumkan madu kepadanya namun diarenya semakin parah” Rosul pun bersabda “firman Allah SWT benar dan perut saudaramu bohong” lelaki itu kembali meminumkan madu kepada saudaranya kemudian sembuh.(HR. Bukhori Muslim).

Beberapa eksperimen menyebutkan bahwa madu mempunyai pengaruh efektif terhadap lamanya waktu diare, terutama pada penderita radang lambung dan usus, hal ini terjadi karna madu mampu membunuh bakteri dan kuman, banyak penelitian dilakukan untuk mengetahui kehebatan madu dalam membunuh bakteri dengan cara memberi medium biakan bakteri dengan madu asli, hasilnya seluruh sel-sel bakteri tersebut hancur oleh pengaruh madu walaupun waktunya tidak bersamaan. Lebih-lebih dalam berbagai hadits Rosul disebutkan bahwa obat Rosul itu ada tiga, yaitu; madu, habbatus sauda (jintan hitam) dan sholat malam.

Jumat, 08 November 2013

PANGURIPAN 1

PRAKATA AREK PONDOK'AN

PADI itu...
Semakin tua, semakin merunduk.
Sebuah potret kesantunan dan kerendah hati-an.

Sedangkan manusia...
Saat masih muda keras kepala,
Semakin tua, menjadi gila senioritas.
Sok lebih baik, lebih berpengalaman, lebih dewasa, lebih banyak makan garam kehidupan, dan berbagai rekayasa gila kehormatan lainnya (meskipun tidak semua orang demikian).

Lantas yang benar yang bagaimana?
Tidak ada yang benar ataupun salah,
Karena memang ini bukan persoalan hukum, tapi masalah kedewasaan mental dan emosi.
Jadi bukan persoalan "seharusnya", melainkan masalah "sebaiknya".

Frasanya:
Orang yang sudah TUA memang SEHARUSNYA dihormati oleh yang MUDA, apapun kehendak dan kebijakannya (meski harus dengan memaksakan diri),

Orang yang sudah TUA SEBAIKNYA tetap santun kepada yang MUDA, karena itu justru sebuah hakikat kehormatan yang tinggi nilainya.

TUA bisa jadi dari sudut pandang usianya/ ilmunya/ kekayaan hartanya/ status sosialnya/ hirarki kepemimpinannya/ dsb.

Terma SEHARUSNYA, maka itu menjadi wilayah egoisme AKAL manusia,
Adapun SEBAIKNYA, itu menjadi teritorial kelembutan HATI.

Tentunya dalam konteks akhlaq SOSIAL, peran HATI selangkah lebih baik dan mulia dari pada dominasi AKAL, yang hanya mampu melihat dari sudut pandang SEHARUSNYA, bukan SEBAIKNYA.

Karena...
Menjadi orang yang BAIK itu jauh lebih sulit, dari pada menjadi orang yang hanya sekedar BENAR.

SEMOGA KITA BISA JADI MANUSIA YANG BERAKHLAKUL KARIMAH
BAIK DI MATA MANUSIA, BAIK PULA DI MATA ALLAH SWT. mugo-mugo barokah... amin

Kamis, 31 Oktober 2013

CRITO AREK EMBONGAN

MELUDAHI KEBAHAGIAAN
 
Pada suatu hari seorang pedagang tiba di kota Konya, sebuah kota di Negara Turki zaman dahulu. Pedagang itu tampak gelisah. Rupa-rupanya perjalanan niaganya ke sejumlah kota mengalami kerugian. Barang-barang dagangan habis, tetapi laba tak di dapatnya. Kini dengan lesu sang pedagang berniat singgah sejenak untuk beristirahat di kota Konya. Ia ingin menenangkan jiwanya sebentar dari kesumpekan hidup yang tengah melandanya.

Kepada beberapa kenalannya, sang pedagang minta diantarkan kepada para ulama untuk meminta nasehat. Para sahabatnya lantas mengajak sang pedagang untuk mengunjungi ulama setempat untuk mengadukan permasalahannya. Para ulama kota itu memberinya sejumlah nasehat, namun pedagang itu merasa kurang puas. Ia masih merasa ada yang mengganggu batinnya, sesuatu yang tak ia ketahui namun membuat gelisah jiwanya.

Akhirnya sang pedagang berkata pada para sahabatnya: “ antarkan aku lagi ke ulama di kota ini yang benar-benar alim, ulama yang tidak cinta dunia. Agar aku dapat mengambil manfaat dari ucapannya”.
Sahabatnya berkata: “ seingatku, semua ulama di kota ini telah kita kunjungi. Tapi, sebentar…memang ada seorang alim yang kita telah lupa mengunjunginya. Dia adalah Syaikh Jalaluddin Rumi. Beliau adalah orang yang benar-benar alim. Beliau telah membuang kecintaan pada dunia dan menukarnya dengan cinta ilahi. Beliau benar-benar sudah tenggelam dalam rasa cinta yang memabukkan kepada Tuhannya. Beliau kini tinggal di pinggir kota. Kita telah melupakannya.”

Baru mendengar nama ulama itu saja sudah membuat hati sang pedagang gembira. Ia merasa ulama yang disebutkan sahabatnya itu mampu memberi jawaban atas kegundahannya selama ini. Ia pun berjanji dalam hati, akan memberi sedikit dari sisa uangnya kepada ulama itu.
Mereka pun berangkat ke tempat sang ulama.
Waktu mereka tiba, mereka melihat sang ulama sedang asyik membaca kitab di dalam rumahnya yang sederhana. Baru melihat keteduhan dan pancaran kelembutan di wajah sang ulama, sudah membuat airmata sang pedagang berlinang. Cahaya yang memancar dari wajah ulama itu menerbitkan ketentraman di hatinya. Sang pedagang pun mengucap salam.

Sambil tersenyum Syaikh Jalaluddin Rumi menjawab salamnya dan berkata: “uang yang kau niatkan untuk kau berikan padaku aku terima. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Wahai pedagang, sekarang apakah kau ingin tahu apa yang membuat hatimu gundah dan usahamu terus-menerus rugi?”
Sambil bercucuran airmata pedagang itu mengangguk.

Dengan tenang, Syaikh Jalaluddin mengarahkan jari telunjuknya ke dinding. Tiba-tiba saja dinding itu terbelah. Kemudian tampak pemandangan seorang yang berpakaian compang-camping sedang tidur di sudut pasar.

“wahai pedagang, kau pernah melewati pasar ini dan memandang jijik pada pengemis itu, lalu meludahinya. Dia adalah salah satu kekasih Allah. Hatinya terluka oleh sikapmu padanya. Ia lalu memohon kepada Allah. Karena doanyalah usahamu jadi terus-menerus rugi dan hatimu selalu gelisah.”
Pedagang itu menjerit menangisi perbuatannya. Syaikh lalu berkata:
“sekarang pengemis itu ada di kota Firengistan, di sebuah sudut pasar. Datanglah kesana, mintalah maaf padanya, cium tangannya dan biarkan airmata penyesalanmu membasahi telapak kakinya. Sampaikan salam takzimku padanya.”

Pedagang itu lalu pamit dan bergegas menuju kota yang dimaksud. Sampai disana ia mendapati kebenaran kata-kata Rumi. Pengemis itu ada disana. Dengan penuh penyesalan pedagang itu meminta maaf dan mencium telapak kaki pengemis itu sambil berlinangan airmatanya.

Dalam hidup ini mungkin kita mengalami seperti yang dialami pedagang itu. Kesumpekan, kegelisahan, kegagalan usaha, dan kesialan yang terus membuntuti. Itu mungkin karena kita telah sengaja atau tanpa sengaja menyakiti hati orang-orang yang dicintai Allah. Kita sudah meludahi dan memandang jijik tempat atau orang-orang yang menjadi penyebab turunnya kemuliaan dan kebahagiaan buat kita, sehingga kemuliaan dan kebahagiaan untuk kita dibatalkan. Kita telah menghina kehormatan orang-orang yang dihormati Allah, sehingga kita pun kehilangan kehormatan kita dihadapan Allah.

Marilah kita meminta maaf kepada mereka, dan mencucurkan airmata penyesalan kita. nek gak iso nangis yo gpopo hahaha... yowes lah,,, mugo mugo manfaat...

Wallahu a'lam.

DAKWAH & ILMU LAKUne KH. CHAMIM DJAZULI (GUS MIEK)


3 PREMAN TANJUNG PRIOK ITU BERTAUBAT DI TANGAN GUS MIEK YANG SUDAH 3 TAHUN WAFAT!!!

Tak ada habisnya kalau kita membicarakan wali nyentrik satu ini, Gus Miek kyai nyeleneh yang mendapat sorotan banyak manusia. Ustadz Hamim Jazuli  berkisah yang didengarnya dari Ustadz Suhaimi, salah seorang alumni PP. al-Falah Ploso Kediri, saat acara Halal Bihalal di aula gedung Asrama Brimob Cipinang. Beliau berbicara mengenai kisah 3 orang preman yang bertaubat.

Di daerah Tanjung Priok pada tahun 1996, ada 3 orang preman yang kerjaannya cuma memalak setiap kendaraan truck kontainer yang hendak masuk pelabuhan. Setelah itu mereka akan menggunakan uang hasil palakannya itu untuk mabuk-mabukkan, main perempuan atau berjudi.

Hingga pada suatu hari datanglah seorang pria mengenalkan dirinya bernama Gus Miek. Lantas pria itu berbicara kesana-kemari tentang banyak hal, mulai dari masalah politik, ekonomi hingga menyentuh masalah agama. Begitu lembut dan inteleknya pria itu berbicara, hingga akhirnya ketiga preman ini tertarik dan mulai suka dengannya. Apalagi pria itu orangnya asyik diajak gaul ala preman dan suka traktir makan, minum dan rokok.

Hingga akhirnya masuk waktu shalat Dzuhur, lantas Gus Miek mengajak ketiga preman itu untuk ikut shalat. Pada mulanya mereka menolak, tapi Gus Miek merayunya dengan iming-iming barangsiapa yang mau shalat dengannya, maka akan dikasih uang Rp. 50.000. Maka walaupun terpaksa akhirnya ketiga preman ini mau ikut shalat di belakang Gus Miek, tentu saja niatnya demi mendapat uang.

Begitulah setiap waktu shalat, pasti mereka shalat berjamaah bersama teman barunya, Gus Miek. Kejadian ini berlangsung hingga 3 bulan lamanya. Hingga pada akhirnya ada kesadaran tersendiri bagi tiga preman itu untuk shalat, apalagi Gus Miek juga mengajarkan masalah agama yang selama ini belum pernah mereka dengar.

Dan memasuki bulan ke-4, Gus Miek sudah tidak menemui 3 preman tersebut. Tentu saja mereka kalang kabut, karena sudah terbiasa shalat berjamaah bersama Gus Miek. Mulai ada kerinduan dari ketiga preman itu akan sosok pria misterius yang selama ini selalu mengajak mereka kepada kebaikan dan mengajarkan mereka tentang masalah agama.

Rupanya tingkah mereka menarik perhatian Ustadz Suhaimi yang ketika itu baru pulang dari acara Maulid di Masjid Luar Batang. Lalu sang ustadz menghampiri mereka di teras masjid dan menanyakan banyak hal. Kemudian 3 preman itu bercerita tentang perjumpaan mereka dengan seorang pria misterius yang membuat mereka akhirnya mulai mendalami masalah agama.

Betapa kagetnya Ustadz Suhaimi ketika mendengar nama Gus Miek disebut oleh mereka. Lantas sang ustadz yang saat itu membawa buku saku tentang Dzikrul Ghofilin memperlihatkan foto seorang ulama kepada ketiga preman itu: “Apakah pria misterius itu seperti orang ini?”

Dengan nada heran, preman itu menjawab: “Iya benar. Apakah Ustadz kenal dengan dia?”

Ustadz Suhaimi menjawab: “Bukan kenal lagi, ini guru saya. Beliau seorang ulama besar yang merupakan seorang waliyullah. Dan beliau sudah wafat 3 tahun yang lalu.”

Seperti tersambar petir, terkejut bukan kepalang tiga preman ini mendengar penjelasan Ustadz Suhaimi. Jadi selama ini mereka mendapat pencerahan dari seorang ulama besar, waliyullaah masyhur, yang sudah lama wafat. Menangislah mereka sambil menciumi tangan Ustadz Suhaimi sambil menyatakan keinginan mereka untuk bertaubat dan meminta beliau mau mengajari mereka tentang masalah agama. Akhirya sang ustadz pun menyanggupinya dengan berurai air mata.

Kisah ini mengandung pelajaran, bahwa Allah memberikan hidayah kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dan juga mengajarkan bahwa para wali Allah itu tiadalah bagi mereka mati, jasad boleh mati tapi dakwah mereka akan tetap hidup kapan pun dan di manapun. Wallahu A’lam.  Semoga Manfaat & barokah... amin

Kamis, 24 Oktober 2013

AYAM GENTAYANGAN

 BEGADANG......

“Apabila kalian mendengar ayam jantan berkokok (di waktu malam), maka mintalah anugrah kepada Allah, karena sesungguhnya ia melihat malaikat. Namun apabila engkau mendengar keledai meringkik (di waktu malam), maka mintalah perlindungan kepada Allah dari gangguan syaithan, karena sesungguhnya ia telah melihat syaitan” ( Shahih Al Bukhari )

Kita sering kali mendengar hadits ini tetapi bisa jadi jarang memikirkannya dan tidak terlintas dalam benak kita untuk meneliti secara ilmiah mengapa itu terjadi.
Kemampuan sistem visual manusia di dunia ini terbatas. Dalam hal ini justru kalah dengan sistem visual keledai dan ayam jantan.

Pandangan mata manusia terbatas dan tidak dapat melihat apa yang berada di bawah sinar infra merah atau di atas sinar ultraviolet.

Tapi kemampuan indera ayam jantan dan keledai melewati batas itu. Pertanyaannya sekarang, bagaimana keledai dan ayam bisa melihat setan dan malaikat, bukan sebaliknya ?

Keledai itu dapat melihat dengan sinar infra merah, sedangkan setan sendiri berasal dari jin yang diciptakan dari api. Artinya, setan termasuk dalam lingkup infra merah. Karena itulah, keledai dapat melihat setan, tetapi tidak bisa melihat malaikat.

Adapun ayam jantan, ia mampu melihat sinar ultraviolet, sedangkan malaikat diciptakan dari cahaya, artinya dari sinar ultraviolet. Karena itulah, malaikat dapat dilihat oleh ayam jantan.
Hal ini menjelaskan kepada kita mengapa setan melarikan diri saat disebutkan nama Allah. Penyebabnya adalah karena para malaikat datang ke tempat yang disebut nama Allah itu, sehingga setan melarikan diri.

Mengapa setan menghindar bila ada malaikat ?
Jawabannya adalah karena setan terganggu bila melihat cahaya malaikat. Dengan kata lain, jika sinar ultraviolet bertemu dengan sinar inframerah di satu tempat, maka sinar merah memudar.

Wallahu`alam


Allahumma shalli alaa ruuhi sayyidina muhammadin fil arwah, wa 'ala Jasadihi filjasad, wa alaa Qabrihi filqubuur"
Artinya :
wahai Allah limpahkan shalawat pada Ruh Sayyidina Muhammad di alam arwah, dan limpahkan pula pada Jasadnya di alam Jasad, dan pada kuburnya di alam kubur.

“Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad nuuri-kas saari wa madaadikal jaari wajma’nii bihi fi kulli athwaari wa ‘ala alihi wa shahbihi yannuur”

dan jangan Lupa membaca Al-qur'an, jangan lewatkan seharipun tanpa membaca Al-qur'an jadikan bacaan yg paling anda senangi, berkata Imam Ahmad bin Hanbal, Cinta Allah besar pada pecinta Alqur'an, dengan memahamainya atau tidak dg memahaminya.


Mugi2 manfaat barokah... amin

ABU DZAR AL GHIFARI r.a.

Mubarak bersama KH. Nurul Huda Djazuli
Pengasuh PP. Al-Falah Ploso Kediri
(Pelayan Dhuafa dan Pelurus Penguasa)
 
Sosoknya tak dapat dilepaskan sebagai tokoh yang paling giat menerapkan prinsip egaliter, kesetaraan dalam hal membelanjakan harta di jalan Allah. Ditentangnya semua orang yang cenderung memupuk harta untuk kepentingan pribadi, termasuk sahabat-sahabatnya sendiri.  Dukungannya kepada semangat solidaritas sosial, kepedulian kalangan berpunya kepada kaum miskin, bukan hanya dalam ucapan. Seluruh sikap hidupnya ia tunjukkan kepada upaya penumbuhan semangat tersebut. Sikap wara’ dan zuhud selalu jadi perilaku hidupnya. Sikapnya inilah yang dipuji Rasulullah SAW. Saat Rasul akan berpulang, Abu Dzar dipanggilnya. Sambil memeluk Abu Dzar, Nabi berkata “Abu Dzar akan tetap sama sepanjang hidupnya. Dia tidak akan berubah walaupun aku meninggal nanti.” Ucapan Nabi ternyata benar. Hingga akhir hayatnya kemudian, Abu Dzar tetap dalam kesederhanaan dan sangat saleh.

Jundub bin Junadah bin Sakan atau lebih dikenal dengan nama Abu Dzar al-Ghifari atau Abizar al-Ghifari. Abu Dzar al–Ghifari merupakan salah satu dari Assabiqunal Awwalun. Al–Ghifari merupakan julukan bagi Abu Dzar karena ia berasal dari daerah Ghifar. Ghifar merupakan salah satu nama kabilah yang gemar melakukan perjalanan yang jaraknya sangat jauh dan tiada tandingannya baik dalam jarak tempuh maupun keberaniannya.Ia memeluk Islam dengan sukarela, Ia mendatangi Nabi Muhammad langsung ke Mekkah untuk menyatakan keislamannya.

Setelah menyatakan keislamannya, ia berkeliling Mekkah untuk meneriakkan bahwa ia seorang Muslim, hingga ia dipukuli oleh suku Quraisy. Atas bantuan dari Abbas bin Abdul Muthalib, ia dibebaskan dari suku Quraisy, setelah suku Quraisy mengetahui bahwa orang yang dipukuli berasal dari suku Ghifar. Ia mengikuti hampir seluruh pertempuran-pertempuran selama Nabi Muhammad hidup. 

Dia dikenal sangat setia kepada Rasulullah. Kesetiaan itu misalnya dibuktikan sosok sederhana ini dalam satu perjalanan pasukan Muslim menuju medan Perang Tabuk melawan kekaisaran Bizantium. Karena keledainya lemah, ia rela berjalan kaki seraya memikul bawaannya. Saat itu sedang terjadi puncak musim panas yang sangat menyayat.

Dia keletihan dan roboh di hadapan Nabi SAW. Namun Rasulullah heran kantong airnya masih penuh. Setelah ditanya mengapa dia tidak minum airnya, tokoh yang juga kerap mengkritik penguasa semena-mena ini mengatakan, “Di perjalanan saya temukan mata air.

Saya minum air itu sedikit dan saya merasakan nikmat. Setelah itu, saya bersumpah tak akan minum air itu lagi sebelum Nabi SAW meminumnya.” Dengan rasa haru, Rasulullah berujar, “Engkau datang sendirian, engkau hidup sendirian, dan engkau akan meninggal dalam kesendirian. Tapi serombongan orang dari Irak yang saleh kelak akan mengurus pemakamanmu.” Abu Dzar Al-Ghifary, sahabat setia Rasulullah itu, mengabdikan sepanjang hidupnya untuk Islam.

Masuk Islam
Tidak diketahui pasti kapan Abu Dzar lahir. Sejarah hanya mencatat, ia lahir dan tinggal dekat jalur kafilah Mekkah, Syria. Bersama ibu dan saudara lelakinya, Anis Al-Ghifar, Abu Dzar hijrah ke Nejed Atas, Arab Saudi. Ini merupakan hijrah pertama Abu Dzar dalam mencari kebenaran. Di Nejed Atas, Abu Dzar tak lama tinggal.

Mendengar datangnya agama Islam, Abu Dzar pun berpikir tentang agama baru ini. Saat itu, ajaran Nabi Muhammad ini telah mulai mengguncangkan kota Mekkah dan membangkitkan gelombang kemarahan di seluruh Jazirah Arab. Abu Dzar yang telah lama merindukan kebenaran, langsung tertarik kepada Rasulullah, dan ingin bertemu dengan Nabi SAW. Ia pergi ke Mekkah, dan sekali-sekali mengunjungi Kabah. Sebulan lebih lamanya ia mempelajari dengan seksama perbuatan dan ajaran Nabi. Waktu itu masyarakat kota Mekkah dalam suasana saling bermusuhan.

Demikian halnya dengan Kabah yang masih dipenuhi berhala dan sering dikunjungi para penyembah berhala dari suku Quraisy, sehingga menjadi tempat pertemuan yang populer. Nabi juga datang ke sana untuk shalat. Seperti yang diharapkan sejak lama, Abu Dzar berkesempatan bertemu dengan Nabi. Dan pada saat itulah ia memeluk agama Islam, dan kemudian menjadi salah seorang pejuang paling gigih dan berani.

Kisah masuk Islamnya Abu Dzar
Diceritakan oleh (Abu Jamra): Ibn Abbas ra. berkata pada kami: Maukah kalian aku ceritakan kisah tentang masuk Islamnya Abu Dzar? Kami menjawab: “Ya”

Abu Dzar berkata, “Aku adalah seorang pria dari kabilah Ghifar, Kami mendengar bahwa ada seseorang mengaku nabi di Mekkah. Aku bilang pada seorang saudaraku,

‘Pergilah temui orang itu, bicaralah dengannya lalu kabarkanlah beritanya padaku’. Dia pergi menjumpainya dan kembali. Aku bertanya padanya, ‘Ada kabar apa yang kau bawa?’, Dia berkata,

‘Demi Allah, aku melihat seorang pria mengajak pada hal-hal yang baik dan melarang hal-hal yang buruk’, Aku berkata padanya, ‘Kamu tidak memuaskan keingin-tahuanku dengan keterangan yang hanya sedikit itu’ .
Aku mengambil kantung air dan tongkat lalu pergi menuju Mekkah. Aku tak tahu siapa dan seperti apa nabi itu, dan akupun tak mau menanyakan hal itu pada siapapun. Aku terus minum air zam-zam dan terus berdiam diri di sekitar Kabah. Lalu Ali lewat di depanku, dia bertanya, ‘Sepertinya anda orang asing disini? ‘Aku jawab ‘Ya’.

Dia mengajakku kerumahnya, aku lalu mengikutinya. Dia tidak menanyakan apapun padaku, Akupun tidak mengatakan apa-apa padanya.

Besok paginya aku pergi lagi ke Kabah untuk menanyakan sang nabi pada orang-orang di sana, tapi tak seorangpun mengatakan sesuatu tentangnya. Ali kembali lewat di hadapanku dan bertanya,

‘Adakah seseorang yang belum juga menemukan tempat tinggalnya?’, Aku bilang,’Tidak’. Dia berkata,
‘Kemari mendekatlah padaku’. Dia bertanya,

‘Anda punya urusan apa disini? Apa yang membuat anda datang ke kota ini?’. Aku bilang padanya,
‘Jika kamu bisa menjaga rahasiaku, maka aku akan mengatakannya ‘, Dia menjawab,
‘Akan aku lakukan’. Aku berkata padanya,

‘Kami mendengar bahwa ada seseorang di kota ini mengaku sebagai seorang nabi…aku mengutus seorang saudaraku untuk bicara dengannya dan waktu dia kembali, dia membawa kabar yang tidak memuaskan. Jadi aku berpikir untuk bertemu dengannya secara langsung’. Ali berkata,

‘Tercapailah sudah tujuanmu, Aku mau menemui dia sekarang, jadi ikutlah denganku dan kemanapun aku masuk, masuklah setelahku. Jika aku menjumpai seseorang yang mungkin akan menyusahkanmu, aku akan berdiri di dekat tembok berpura-pura memperbaiki sepatuku (sebagai tanda peringatan) dan anda harus segera pergi’.

Kemudian Ali berjalan dan aku mengikutinya sampai dia masuk ke suatu tempat dan aku masuk dengannya menemui sang nabi yang padanya aku berkata,

‘Terangkanlah hakikat Islam itu padaku’. Waktu dia menjelaskannya, aku langsung menyatakan masuk Islam seketika itu juga.

Nabi bersabda,’Wahai Abu Dzar, simpanlah perkataanmu itu sebagai rahasiamu dan kembalilah ke daerah asalmu dan apabila kamu mendengar kabar kemenangan kami, kembalilah temuilah kami’. Aku berkata, ‘Demi Dia Yang telah mengutus engkau dalam kebenaran, aku akan mengumumkan keIslamanku secara terang-terangan di hadapan mereka (kaum musyrikin)’. Abu Dzar pergi ke Kabah di mana banyak orang-orang Quraisy berkumpul, lalu berseru, ‘Hey, Kalian orang-orang Quraisy! Aku bersaksi (Ashadu a lâ ilâha ill-Allah wa ashadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluhu) Tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad itu hamba dan rasul Allah!’. Mendengar hal itu Orang-orang Quraisy itu berteriak,

‘Tangkap Sâbi itu (Muslim itu)! Mereka bangkit lalu memukuliku sampai hampir mati. Al-Abbas melihatku lalu menabrakkan badannya ke badanku untuk melindungiku. Lalu dia menghadapi mereka dan berkata,
‘Ada apa dengan kalian ini! Apakah kalian mau membunuh seorang dari kabilah Ghifar?, padahal selama ini kalian berdagang dan berkomunikasi melewati daerah kekuasaan mereka?!’. Mereka lalu meninggalkanku…
Besok paginya aku kembali ke Kabah dan berseru sama persis seperti yang aku lakukan kemarin, mereka kembali berteriak,

‘Tangkap Sâbi itu (Muslim itu)!’. Lalu aku dipukuli (sampai hampir mati) sama seperti kemarin, dan kembali Al Abbas menemukan diriku dan menabrakkan badannya ke badanku untuk melindungiku, dan dia berkata pada mereka sama seperti yang dia lakukan kemarin.

Menjadi Sahabat Nabi
Mendapat kepercayaan Nabi SAW, Abu Dzar ditugaskan mengajarkan Islam di kalangan sukunya. Meskipun tak sedikit rintangan yang dihadapinya, misi Abu Dzar tergolong sukses. Bukan hanya ibu dan saudara-saudaranya, hampir seluruh sukunya yang suka merampok berhasil diIslamkan. Itu pula yang mencatatkan dirinya sebagai salah seorang penyiar Islam fase pertama dan terkemuka.

Rasulullah sendiri sangat menghargainya. Ketika dia meninggalkan Madinah untuk terjun dalam “Perang pakaian compang-camping”, dia diangkat sebagai imam dan administrator kota itu. Saat akan meninggal dunia, Nabi memanggil Abu Dzar. Sambil memeluknya, Rasulullah berkata: “Abudzar akan tetap sama sepanjang hidupnya.” Ucapan Nabi ternyata benar, Abudzar tetap dalam kesederhanaan dan sangat saleh. Seumur hidupnya ia mencela sikap hidup kaum kapitalis, terutama pada masa khalifah ketiga, Usman bin Affan, ketika kaum Quraisy hidup dalam gelimangan harta.

Bagi Abu Dzar, masalah prinsip adalah masalah yang tak bisa ditawar-tawar. Itu sebabnya, hartawan yang dermawan ini gigih mempertahankan prinsip egaliter Islam. Penafsirannya mengenai “Ayat Kanz” (tentang pemusatan kekayaan), dalam surat At-Taubah, menimbulkan pertentangan pada masa pemerintahan Usman, khalifah ketiga.

“Mereka yang suka sekali menumpuk emas dan perak dan tidak memanfaatkannya di jalan Allah, beritahukan mereka bahwa hukuman yang sangat mengerikan akan mereka terima. Pada hari itu, kening, samping dan punggung mereka akan dicap dengan emas dan perak yang dibakar sampai merah, panasnya sangat tinggi, dan tertulis: Inilah apa yang telah engkau kumpulkan untuk keuntunganmu. Sekarang rasakan hasil yang telah engkau himpun.”

Atas dasar pemahamannya inilah, Abu Dzar menentang keras ide menumpuk harta kekayaan dan menganggapnya sebagai bertentangan dengan semangat Islam. Soal ini, sedikit pun Abu Dzar tak mau kompromi dengan kapitalisme di kalangan kaum Muslimin di Syria yang diperintah Muawiyah, saat itu. Menurutnya, sebagaimana dikutip dalam buku Tokoh-tokoh Islam yang Diabadikan Alquran, merupakan kewajiban Muslim sejati menyalurkan kelebihan hartanya kepada saudara-saudaranya yang miskin.
Untuk memperkuat pendapatnya itu, Abu Dzar mengutip peristiwa masa Nabi: “Suatu hari, ketika Nabi Besar sedang berjalan bersama-sama Abu Dzar, terlihat pegunungan Ohad.
Nabi berkata kepada Abu Dzar, ‘Jika aku mempunyai emas seberat pegunungan yang jauh itu, aku tidak perlu melihatnya dan memilikinya kecuali bila diharuskan membayar utang-utangku. Sisanya akan aku bagi-bagikan kepada hamba Allah.”

Pelayan Dhuafa dan Pelurus Penguasa
Semasa hidupnya, Abu Dzar Al-Ghifary sangat dikenal sebagai penyayang kaum dhuafa. Kepedulian terhadap golongan fakir ini bahkan menjadi sikap hidup dan kepribadian Abu Dzar. Prinsip hidup sederhana dan peduli terhadap kaum miskin itu tetap ia pegang di, di Syria. ia menyaksikan gubernur Muawiyah hidup bermewah-mewah. Ia malahan memusatkan kekuasaannya dengan bantuan kelas yang mendapat hak istimewa, dan dengan itu mereka telah menumpuk harta secara besar-besaran. Ajaran egaliter Abu Dzar membangkitkan massa melawan penguasa dan kaum borjuis itu. Keteguhan prinsipnya itu membuat Abu Dzar sebagai ‘duri dalam daging’ bagi penguasa setempat.

Ketika Muawiyah membangun istana hijaunya, Al-Khizra, Abu Dzar salah satu ahlus shuffah (sahabat Nabi SAW yang tinggal di serambi Masjid Nabawi) ini mengkritik khalifah, “Kalau Anda membangun istana ini dari uang negara, berarti Anda telah menyalahgunakan uang negara. Kalau Anda membangunnya dengan uang Anda sendiri, berarti Anda melakukan ‘israf’ (pemborosan).” Muawiyah hanya terpesona dan tidak menjawab peringatan itu.

Muawiyah berusaha keras agar Abu Dzar tidak meneruskan ajarannya. Tapi penganjur egaliterisme itu tetap pada prinsipnya. Muawiyah kemudian mengatur sebuah diskusi antara Abu Dzar dan ahli-ahli agama. Sayang, pendapat para ahli itu tidak mempengaruhinya.

Muawiyah melarang rakyat berhubungan atau mendengarkan pengajaran salah satu sahabat yang ikut dalam penaklukan Mesir, pada masa khalifah Umar bin Khattab ini. Kendati demikian, rakyat tetap berduyun-duyun meminta nasihatnya. Akhirnya Muawiyah mengadu kepada khalifah Usman. Ia mengatakan bahwa Abu Dzar mengajarkan kebencian kelas di Syria, hal yang dianggapnya dapat membawa akibat yang serius. Khalifah segera memanggil Abu Dzar. Memenuhi panggilan Khalifah, Abu Dzar mendapat sambutan hangat di Madinah. Namun, ia pun tak kerasan tinggal di kota Nabi tersebut karena orang-orang kaya di kota itu pun tak menyukai seruannya utnuk pemerataan kekayaan. Akhirnya Utsman meminta Abu Dzar meninggalkan Madinah dan tinggal di Rabza, sebuah kampung kecil di jalur jalan kafilah Irak Madinah.

Pada saat Abu Dzar mengalami sakaratul maut, istrinya menangis dan iapun menanyakan mengapa ia menangis. Istrinya menjawab bahwa ia sedih karena tidak tahu bagaimana akan mengkafaninya karena tak ada 1 kainpun yang tersisa. Abu Dzar pun menceritakan kisahnya bersama Rasulullah, beliau bersabda : “Pastilah ada salah seorang di antara kalian yang akan meninggal di padang pasir liar, yang akan disaksikan nanti oleh serombongan orang–orang beriman…!”. Orang yang dimaksud Rasulullah itu benarlah Abu Dzar karena kemudian ada serombongan orang beriman yang lewat padang pasir yang berada di Rabadzah itu yaitu Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud menangis ketika melihat Abu Dzar telah meninggal dunia dan ia membenarkan ucapan Rasulullah pada saat perang Tabuk tentang Abu Dzar :
“Anda berjalan sebatang kara…Mati sebatang kara….Dan dibangkitkan nanti sebatang kara…!”

Rasulullah mengucapkan ini karena pada saat perjalanan menuju medan perang, Abu Dzar dan keledainya tertinggal dengan rombongan lainnya karena kelelahan dari keledainya. Akhirnya, Abu Dzar pun turun dari keledai itu dan membawa seluruh barang bawaannya di punggungnya untuk bergegas menyusul Rasulullah yang sudah berada jauh di depannya. Ketika Rasulullah melihat Abu Dzar yang berjalan dengan terburu–buru membawa banyak barang di punggungnya, Rasulullah pun tersenyum bahagia karena sungguh ia melihat seorang yang begitu kuat keinginannya untuk berjuang di jalan Allah tanpa ragu dan keengganan sedikitpun karena Rasulullah melihat kegembiraan di wajah Abu Dzar saat ia berlari bergegas menyusul Rasulullah.

Watak Abu Dzar yang sangat keras dan sangat menjunjung yang haq dan memberantas yang batil melalui ucapannya membuatnya berperan dalam dakwah Islam. Menurutnya, kebenaran yang tidak diucapkan bukanlah suatu kebenaran sehingga ia tidak segan menegur segala jenis kemungkaran yang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

Abu Dzar sangat memegang teguh apa yang telah Rasulullah wasiatkan padanya tentang cara menentang penguasa yang menumpuk harta untuk kepentingan pribadinya. Ia sangat ingat bahwa Rasulullah melarangnya untuk menggunakan pedang untuk mengatasi hal semacam itu. Oleh karena itulah, ia menggunakan lisannya yang lebih tajam dari pedang untuk mengingatkan para penguasa yang menumpuk harta untuk kepentingannya pribadi.

Abu Dzar Al-Ghifari juga merupakan seorang sahabat Nabi SAW yang terkenal dengan perbendaharaan ilmu pengetahuannya dan keshalehannya. Sayyidina Ali ra berkata mengenai Abu Dzar : “Abu Dzar ialah penyimpan jenis-jenis ilmu pengetahuan yang tidak dapat diperoleh dari orang lain.”  Wallahua'lam.. Semoga Manfaat Barokah... Amin

Selasa, 22 Oktober 2013

Bergembira menyambut kelahiran Kanjeng Nabi Rasulullah SAW


 السلام عليك يا يارسول الله

Al Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf
& Mubarack Assalafi
Pujian terhadap Nabi Muhammad merupakan satu hal yang dilakukan oleh sahabat, bahkan di hadapan Rasulullah. Di banyak hadist disebutkan bahwa banyak orang dan penyair yang datang kepada Rasul dan mengucapkan syair yang berisikan pujian terhadap Rasulullah, maka Rasul pun menyambut mereka dan menghormati mereka, serta menyambut baik atas pujian mereka. Sebab beliau tahu bahwa mereka melakukan hal tersebut untuk mendapatkan ridho beliau, yang mana mencari ridho Rasul merupakan jalan untuk mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala. Dan mereka, para sahabat Rasulullah, bagaimana tidak memuji Rasulullah, sedangkan Allah sendiri memuji Ar-Rasul shallallahu alaihi wasallam.

Kegembiraan terhadap kelahiran Rasul merupakan hal yang baik di dalam syariat. Bahkan mengenang kisah kelahiran Nabi atau Rasul merupakan sesuatu yang dicontohkan oleh Allah dalam Al-Quran. Sehingga di dalam Al-Quran, Allah menceritakan tentang kelahiran Nabi Isa alaihi salam, juga tentang kelahiran Nabi Musa alaihi salam. Yang mana Allah menceritakan itu semua secara mendetail. Apabila Allah menceritakan kisah kelahiran mereka para Nabi, maka mengapa kita tidak boleh mengenang kisah kelahiran pemimpin sekalian Nabi dan Rasul?

Rasulullah menceritakan bahwa Allah Ta’ala meringankan adzab terhadap Abu Lahab di neraka pada setiap hari Senin, dikarenakan kegembiraannya atas kelahiran Nabi Muhammad sehingga ia membebaskan budaknya yang bernama Ummu Aiman yang membawa kabar gembira tersebut kepadanya. Hadist ini disebutkan di dalam Shahih Al-Bukhori. Padahal Abu Lahab adalah seorang yang kafir yang disebutkan akan kebinasaannya di dalam Al-Quran, sehingga turun surat khusus untuk menceritakan tentang kebinasaannya. Akan tetapi Allah tidak melupakan kegembiraannya dengan kelahiran Nabi Muhammad hingga meringankan adzab baginya setiap hari Senin, hari kelahiran Rasulullah.

Maka bagaimana halnya dengan seorang hamba yang mukmin, yang seumur hidupnya bergembira dengan kelahiran Rasulullah dan meninggal dalam keadaan Islam? Pastilah derajat yang besar bagi mereka. Sebagaimana Allah berfirman,

“Katakanlah (hai Muhammad) bahwa dengan karunia dan rahmat Allah, maka bergembiralah dengan hal itu, itu (kegembiraan kalian) lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Kegembiraan dengan rahmat dan karunia Allah dituntut oleh Al-Quran, dan kegembiraan tersebut lebih mahal dan lebih berharga dari apa yang dikejar-kejar dan dikumpulkan manusia, baik itu harta ataupun kedudukan.

Karena itu, di bulan kelahiran Rasul yang mulia ini, hendaknya kita memperkuat hubungan kita dengan Rasulullah, dengan menghidupkan sunnah beliau, mengenal riwayat hidup beliau, menanamkan kecintaan terhadap beliau, dalam lubuk hati kita serta keluarga kita, menjadikan Rasulullah sebagai idola yang tertinggi dan paling dekat dengan umat islam, serta memperbanyak shalawat kepada beliau.

Oleh : Habib Jindan bin Naufal Bin Jindan