![]() |
Cangkruk di Area Pesarehan Mbah Kholil |
Apakah efek mengikuti terapi Shalat Bahagia?
Monggo kita baca ceritanya... :)
Ada
kejadian menarik saat Mbah Kiai Kholil Bangkalan masih menjadi santri di
Pesantren Langitan Tuban. Seperti biasanya Kholil muda selalu berjamaah,
yang merupakan keharusan para santri. Suatu ketika di tengah sholat
Isya’ tiba-tiba Kholil tertawa terbahak-bahak.
Karuan saja, hal ini membuat santri lain marah. Demikian juga dengan Mbah Yai Muhammad Noer yang menjadi imam saat itu. Seusai sholat berjamaah,
Kholil dipanggil ke ndalem mbah kiai untuk diinterogasi.
Dengan berkerut kening kiai bertanya.
“Kholil, kenapa waktu sholat tadi kamu tertawa terbahak-bahak?. Lupakah kamu bahwa hal itu mengganggu kekhusyukan sholat orang lain. Dan, sholatmu tidak sah.” ucap Mbah Kiai Noer sambil menatap Kholil.
“Kholil, kenapa waktu sholat tadi kamu tertawa terbahak-bahak?. Lupakah kamu bahwa hal itu mengganggu kekhusyukan sholat orang lain. Dan, sholatmu tidak sah.” ucap Mbah Kiai Noer sambil menatap Kholil.
“Maaf kiai, waktu sholat tadi saya tidak dapat menahan tawa. Saya
melihat mbah kiai sedang mengaduk-aduk nasi di bakul (tempat nasi). Karena
itu saya tertawa. Salahkah yang saya lihat itu kiai?” jawab Kholil muda
dengan tenang, mantap dan sangat sopan.
Mbah Kiai Noer terkejut, Kholil benar. Santri baru itu dapat membaca apa
yang terlintas di benaknya. Mbah Kiai Noer duduk dengan tenang sambil menarik
nafas. Sementara matanya menerawang lurus ke depan, lalu serta merta
berbicara kepada Kholil.
“Kau benar anakku. Saat mengimami sholat tadi perut saya memang sudah
sangat lapar. Yang terbayang dalam fikiran saya memang hanya nasi.”
ucap Mbah Kiai Noer secara jujur.
Maka sejak kejadian itu kelebihan Kholil menjadi buah bibir. Tidak saja di pesantren Langitan, tetapi juga di sekitarnya.
* * * * *
Mbah Kiai Kholil muda tidak sedang meremehkan gurunya. Beliau sangat
ta’dzim dengan semua gurunya. Beliau hanya perantara kehendak Allah. Di
balik peristiwa itu ada suatu hikmah yang dalam. Allah bermaksud
menyempurnakan iman sang guru.
*Dikutip dari buku biografi Kiai Kholil, Surat Kepada Anjing Hitam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar